400 th Post
20.11.09
at
12:24 PM
| Cerita Hidupnya
Mona Luthfina
Posted In Sehari-hari | 0 comments |
All White
at
12:04 PM
| Cerita Hidupnya
Mona Luthfina
Sudah 2 minggu Bandung setiap hari hujan. Bukan hujan rintik-rintik, bukan hujan biasa, bukan pula hujan angin. Hujan deras dan tebal. Bagai kran air hujan di awan dibuka pol. Semuanya putih dan dinginnya masya Allah.
Tapi, setelah awan puas menghabiskan airnya, setelah mereka kembali putih, Bandung menjadi sangat menyenangkan. Dingin, samar tercium bau pohon sehabis hujan, langit kembali biru, dan seluruh sudut kota bagaikan habis dicuci, bersih.
Senangnya..
~ Mona Luthfina
P.S. Foto diambil dari jendela kantor..
P.P.S. Yang gak disuka cuma satu, petirnya.. hiyaiiyy..
Tapi, setelah awan puas menghabiskan airnya, setelah mereka kembali putih, Bandung menjadi sangat menyenangkan. Dingin, samar tercium bau pohon sehabis hujan, langit kembali biru, dan seluruh sudut kota bagaikan habis dicuci, bersih.
Senangnya..
~ Mona Luthfina
P.S. Foto diambil dari jendela kantor..
P.P.S. Yang gak disuka cuma satu, petirnya.. hiyaiiyy..
Posted In Langit, my Fav, Sehari-hari | 0 comments |
Holland Edufair
12.11.09
at
2:27 PM
| Cerita Hidupnya
Mona Luthfina
Hari ini berdua dengan Bidu ke Holland Education Fair 2009 di Hotel Hilton Bandung. Sesampainya di sana, kami baru menyadari bahwa kami tidak menyiapkan apapun untuk ditanyakan. Huakhaha.. Untuk apa, toh semua informasi ada di website-nya.
So, after 15 minutes, we decide to go. Hehe.. Sepertinya radar S2-ku sedang turun-turunnya. Sigh..
~ Mona Luthfina
P.S. At least kita udah ke Hotel Hilton. Haha..
P.P.S. Itu foto Bidu di Hilton
Posted In Sehari-hari | 1 comments |
Enjoying the Nite
3.11.09
at
10:10 PM
| Cerita Hidupnya
Mona Luthfina
Perjalanan panjang antara rumah dan sekolah selama 9 tahun (SD dan SMP), membuat masa kecil dan remajaku banyak dihabiskan di angkot. Hehehehe.. Rumah di daerah Sukajadi, sekolah di daerah Kebon Kalapa. Perjalanan pulang pergi bisa 1,5 sampai dengan 2 jam. 45 menit di pagi hari dan 45 menit di sore hari. Sepanjang perjalanan itu, kuhabiskan dengan membaca atau memperhatikan orang-orang di angkot. Mungkin itulah mengapa aku menjadi seorang pembaca dan pemerhati. Tsaaahh...
Selain menjadi pembaca dan pemerhati, perjalanan menuju sekolah yang cukup panjang itu juga membuatku menjadi anak yang belajar berani dan belajar mandiri. Pulang sekolah, seringkali tidak langsung pulang, tapi pergi ke rumah teman, yang sebagian besar ada di daerah Bandung Selatan (tambahkan 30 menit perjalanan). Jika tidak begitu, pulang sekolah dihabiskan dengan les. Les bahasa, bimbel, dsb. Setiap hari pulang sore.
Entah bagaimana (belum masuk akal), mengapa Bapak dan Ibu percaya saja sama putrinya yang satu ini, keluyuran pulang sekolah. Tapi sebenarnya tanpa kusadari, mereka mengajarkanku tanggung jawab. Lewat maghrib, ditelepon. "Mona, kenapa belum pulang?" atau "Mona pulang ama siapa?" atau "Jangan pulang malam-malam!" atau "Hati-hati!". Secara alamiah, semua pertanyaan dan pesan ini membuatku bertanggung jawab terhadap diriku sendiri. Di kemudian hari baru kusadari bahwa sebenarnya kedua orang tuaku ini khawatir sangat jika putrinya belum pulang (baru terasa pas tinggal cuma berdua sama adek, kebiasaan Ibu dan Bapak menurun padaku.. hehehe..)
Lalu mengapa tiba-tiba aku cerita ini di blogku?
Malam purnama ini sempat teringat bagian masa kecilku itu, teringat pula bahwa aku ini seorang perempuan mandiri, berani, mampu bertanggung jawab atas diri sendiri, dan tidak banyak bergantung pada orang lain. Perempuan yang mampu untuk menemukan kebahagiaan dari hal-hal yang kecil di sekeliling. Perempuan yang mudah untuk tersenyum dan tertawa karena hal yang sederhana. Perempuan sederhana, mandiri, dan bahagia. Si perempuan pembaca dan pemerhati sekeliling. Bahagia karena hanya memperhatikan langit yang begitu biru (sudah lama aku tak memperhatikan langit). Perempuan yang bisa pergi kemana-mana sendiri dan tetap bisa menemukan hal yang menyenangkan.
Bukan berarti aku tidak butuh orang lain, tidak begitu. Tapi kusadari Mona yang dulu lebih kuat dan lebih menikmati hidup. Ah, alhamdulillah diingatkan lagi oleh Allah tentang masa kecilku itu.. Diingatkan lagi bahwa kebahagiaan itu bisa berupa hal-hal kecil yang seringkali terlewatkan oleh kita dan bahwa Mona adalah si perempuan besar dengan hati yang sangat besar pula. Huakhahaha..
Siph ah, enjoy the nite (and the day), Mona!!
~ Mona Luthfina
P.S. Seperti biasa, setiap bertemu purnama, selalu terpana dengan keindahannya. Indah, tapi nampak sepi. :)
Selain menjadi pembaca dan pemerhati, perjalanan menuju sekolah yang cukup panjang itu juga membuatku menjadi anak yang belajar berani dan belajar mandiri. Pulang sekolah, seringkali tidak langsung pulang, tapi pergi ke rumah teman, yang sebagian besar ada di daerah Bandung Selatan (tambahkan 30 menit perjalanan). Jika tidak begitu, pulang sekolah dihabiskan dengan les. Les bahasa, bimbel, dsb. Setiap hari pulang sore.
Entah bagaimana (belum masuk akal), mengapa Bapak dan Ibu percaya saja sama putrinya yang satu ini, keluyuran pulang sekolah. Tapi sebenarnya tanpa kusadari, mereka mengajarkanku tanggung jawab. Lewat maghrib, ditelepon. "Mona, kenapa belum pulang?" atau "Mona pulang ama siapa?" atau "Jangan pulang malam-malam!" atau "Hati-hati!". Secara alamiah, semua pertanyaan dan pesan ini membuatku bertanggung jawab terhadap diriku sendiri. Di kemudian hari baru kusadari bahwa sebenarnya kedua orang tuaku ini khawatir sangat jika putrinya belum pulang (baru terasa pas tinggal cuma berdua sama adek, kebiasaan Ibu dan Bapak menurun padaku.. hehehe..)
Lalu mengapa tiba-tiba aku cerita ini di blogku?
Malam purnama ini sempat teringat bagian masa kecilku itu, teringat pula bahwa aku ini seorang perempuan mandiri, berani, mampu bertanggung jawab atas diri sendiri, dan tidak banyak bergantung pada orang lain. Perempuan yang mampu untuk menemukan kebahagiaan dari hal-hal yang kecil di sekeliling. Perempuan yang mudah untuk tersenyum dan tertawa karena hal yang sederhana. Perempuan sederhana, mandiri, dan bahagia. Si perempuan pembaca dan pemerhati sekeliling. Bahagia karena hanya memperhatikan langit yang begitu biru (sudah lama aku tak memperhatikan langit). Perempuan yang bisa pergi kemana-mana sendiri dan tetap bisa menemukan hal yang menyenangkan.
Bukan berarti aku tidak butuh orang lain, tidak begitu. Tapi kusadari Mona yang dulu lebih kuat dan lebih menikmati hidup. Ah, alhamdulillah diingatkan lagi oleh Allah tentang masa kecilku itu.. Diingatkan lagi bahwa kebahagiaan itu bisa berupa hal-hal kecil yang seringkali terlewatkan oleh kita dan bahwa Mona adalah si perempuan besar dengan hati yang sangat besar pula. Huakhahaha..
Siph ah, enjoy the nite (and the day), Mona!!
~ Mona Luthfina
P.S. Seperti biasa, setiap bertemu purnama, selalu terpana dengan keindahannya. Indah, tapi nampak sepi. :)
Posted In my Thoughts | 1 comments |
Michael Jackson's THIS IS IT
at
9:28 AM
| Cerita Hidupnya
Mona Luthfina
Untuk yang belum nonton documentary film ini, YOU HAVE TO SEE IT!!!!!!!!! Amazing documentary, amazing MJ... Sangat sayang dilewatkan dan HARUS NONTON di bioskop... hahaha...
You will see MJ like you've never seen him before!! For sure..
~ Mona Luthfina
P.S. Nonton lagi aahhh... ampe deg2an nontonnya.. huakhahaha..
Posted In Musik...asyik.., Nonton aaahh.. | 0 comments |
Seperti Katak di Bawah Tempurung
28.10.09
at
9:07 AM
| Cerita Hidupnya
Mona Luthfina
Menurut J.S. Badudu dalam Kamus Peribahasa (Penerbit Kompas, April 2008), peribahasa di atas diartikan sebagai berikut:
Katak diumpamakan dengan seseorang yang picik dan bodoh. Karena kepicikan dan kebodohannya, katak itu menyangka bahwa bulatan tempurung yang menyungkupnya itu adalah langit. Oleh sebab itu, orang yang picik, yang kurang luas pengetahuannya karena kurang bergaul atau karena terlalu lama tinggal di dusun, dikatakan “seperti katak di bawah termpurung”.
Kenapa teringat peribahasa ini? Karena salah satu sepupuku mengatakannya. Dia sedang bercerita tentang pilihannya ambil S2 di kota lain, karena banyak lulusan dari universitasnya dulu (S1) yang jago kandang, merasa bahwa universitas lain itu tidak lebih baik. Dia berkata, “Aku gak mau jadi seperti katak dalam tempurung, mbak..” dan aku pun terngiang-ngiang peribahasa itu semalaman. Hehehe..
Ok, aku dan pemuda Indonesia saat ini adalah bagian dari generasi yang lahir di tahun 80 dan 90-an (menurut RUU Kepemudaan, kriteria pemuda berada pada rentang usia 16 – 30 tahun). Kami generasi yang pragmatis, apolitis, mandiri, produktif, melek teknologi, optimis, dan kurang peduli terhadap persoalan di luar dirinya (Jejak Pendapat Kompas, Kompas cetak 26 Oktober 2009). Generasi mbahku adalah generasi pejuang, generasi ayahku adalah generasi pembangun, dan seharusnya generasiku adalah generasi penjaga. Lalu, apakah generasi kita pantas untuk menjadi penjaga Indonesia?
Sebagian besar hidupku dilewati dengan mengikuti arus. Masuk sekolah karena pada umumnya anak Indonesia juga bersekolah. Lulus SMA langsung kuliah karena sebagian besar anak Indonesia setelah SMA itu ya kuliah. Lulus kuliah cari S2 atau kerja karena sebagian besar lulusan kuliah ya kerja atau S2. Ikut-ikutan bermimpi untuk S2 karena semua orang (a.k.a teman-teman) bermimpi untuk S2. Mengejar karir untuk mencari uang banyak untuk usaha karena semua teman bermimpi seperti itu. Benar-benar standar.
Bapak dan Ibu selalu mementingkan agama dan pendidikan untuk kedua anaknya. Bapak pun selalu memotivasi anak-anaknya untuk membaca, belajar, traveling (bukan jalan-jalan), cari teman baru, silaturrahmi (maintaining old friends), mengobrol, dan menambah wawasan. Memang, Bapak pun seseorang dengan wawasan yang sangat luas. Sedari kecil, aku selalu dididik untuk menjadi manusia yang senang menambah wawasan, manusia yang cinta akan pengetahuan. Didikan itu cukup berhasil. Aku ini si orang yang ingin tahu segalanya. Huakhahaha…
Yang tidak aku sadari (sebenarnya sadar, tapi memilih untuk pura-pura tidak sadar =D) selama ini adalah..
Dalam proses mencari pengetahuan itu, aku selalu terlarut dalam arus deras pemuda generasiku, sehingga aku tanpa sadar mengisolir diriku dari keluasan pengetahuan itu sendiri. Hanya terfokus pada mengikuti apa yang orang lain lakukan. Sampai detik ini pun, aku masih berpikir bahwa aku harus bekerja keras, cari uang banyak, ambil S2, nikah, punya anak, mati, dan masuk syurga (standar, std, gak kreatif).
And here I am, someone with idealistic dreams but no courage to begin a single step.
Seperti katak di bawah tempurung. Merasa tempurung adalah langit. Huakhahahaha.. Kalau peribahasa ini diterapkan dalam hidupku dengan aku si kataknya, berarti Bandung adalah duniaku, teman-temanku saat ini adalah semua temanku (tidak tambah lagi), mengejar karir dan S2 adalah mimpiku, dan ITB adalah langitku (tsah…).
Yupe, tanpa aku sadari dan mungkin (tapi kayaknya iya deh, bukan mungkin.. kan Mona si sok tahu segalanya) sebagian besar pemuda Indonesia sadari, kita sudah menjadi generasi katak di bawah tempurung. Tempurungnya antara lain adalah fashion, trend, Facebook, Twitter, Yahoo Messenger dan semua bentuk teknologi lainnya. Generasi dengan segudang fasilitas untuk berkembang dan memperluas pengetahuan namun tidak memaksimalkan fasilitas itu untuk berkembang. Mengaku pintar, mandiri, sukses, dan melek teknologi namun tanpa sadar bahwa yang disebut pintar, mandiri, sukses, dan melek teknologi itu ya cuma sebatas trend sesaat atau semu belaka.
Berita buruknya (atau malah baik, terserah sudut pandang masing-masing, tapi kupikir sih hal ini berita buruk) masa depan bangsa Indonesia yang sedang berbenah ini ada di tangan kami, generasi katak yang tidak sadar bahwa mereka masih di bawah tempurung. Tempurung semu yang merintangi kita untuk mengembangkan otak, hati, dan jiwa. Ada berapa banyak sih pemuda Indonesia yang peduli dengan kondisi ekonomi global, atau didudukinya kota Taliban di Pakistan (Kompas cetak 27 Oktober 2009, tsah, si Mona sombong), atau kenapa kabinetnya SBY disebut kabinet pelangi, atau kenapa negara kita ini tidak lagi menjadi negara maritim, atau bahkan berapa banyak sih pemuda Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada percakapan sehari-hari? FYI, untuk pertanyaan terakhir aku sih jawabannya tidak (bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar setiap saat). Lalu coba tanyakan lagu terbaru di Inbox SCTV, mode terbaru di majalah, acara reality show terbaru, tipe handphone terbaru, status Facebook si artis ini, Twitter-nya si itu, mau nongkrong dimana nanti malam, dsb, dsb.. pasti akan selalu ada jawabannya..
Huakhahaha.. ironis dan skeptis sekali diriku ini..
Apakah statement-ku benar? Tanyakan saja pada diri sendiri, wahai para pemuda Indonesia. Aku saat ini sedang berusaha memindahkan tempurung di atas kepalaku, mengubah kerangka berpikir terbatas yang sudah mencengkram otakku ini. Dimulai dengan menjalankan didikan Bapak Ibuku, yaitu terus belajar dan menambah wawasan, memberanikan diri untuk melakukan hal baru, bertemu orang baru, terus membaca, dan terus bermimpi. Kemudian mengurangi obsesi terhadap internet serta mulai membaca koran dan buku yang sudah menumpuk. Hehehe..
Work hard and pray hard.
Hidup pemuda Indonesia!! Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-81 (28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2009). Semoga kita semua, pemuda Indonesia, dapat menjadi pemuda Indonesia yang pantas untuk dipasrahi bangsa Indonesia yang besar ini. Amiiin..
Oia, satu lagi pertanyaanku, berapa banyak sih di antara pemuda Indonesia yang menganggap mimpi “Menjadi Presiden” itu bisa menjadi kenyataan? Hehehe..
Sip ah..
~ Mona Luthfina
Posted In Indonesiaku, my Thoughts | 3 comments |
Sungkan
20.10.09
at
7:59 PM
| Cerita Hidupnya
Mona Luthfina
sung·kan a 1 malas (mengerjakan sesuatu); enggan: ia -- bekerja di kebun; 2 merasa tidak enak hati:ia -- menegur orang itu; 3 menaruh hormat; segan: ada perasaan -- dl hatiku thd guru itu;
ke·sung·kan·an n perihal sungkan; keengganan; keseganan: tidak banyak gagasan yg berkembang krn tebalnya - itu ~ KBBI Online (aku belum punya KBBI yang Edisi 4)
~ Mona Luthfina
P.S. I do love the planning, the dreaming, but do I love the "do the work" part? Haha..
Posted In mimpi, my Thoughts | 3 comments |
Subscribe to:
Posts (Atom)



